Serba Sepuh - Harta, tahta, dan wanita. Itulah visi dan misi alami seorang pria. Siapapun yang memiliki harta, dia bisa mendapatkan taht...

Serba Sepuh - Harta, tahta, dan wanita. Itulah visi dan misi alami seorang pria. Siapapun yang memiliki harta, dia bisa mendapatkan tahta dan wanita, atau dibalik siapapun yang memiliki tahta, tak sulit mendapatkan harta dan wanita. Namun, dengan wanita, harta dan tahta bisa melayang seketika. LHI, Djoko Susilo, Silvio Berlusconi, dan sederet nama lainnya sudah membuktikan.

Presiden Republik Indonesia pertama sekaligus Bapak Proklamator kita sendiri pun terkenal sebagai penakhluk wanita sejati. Dengan tahtanya, dia memang tidak silau dengan harta, namun saat bertatap mata dengan wanita muda, hatinya akan selalu diliput gundah gulana sesudahnya. Mari kita susuri kembali sisi lain Singa Podium nan garang ini, Ir. Sukarno.

Kita mulai dari istri pertama Bung Karno, yakni Oetari. Oetari ini adalah putri sulung tokoh pergerakan nasional sekaligus bapak kos Bung Karno saat sekolah di Surabaya, Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Oetari dinikahi Kusno (nama kecil Bung Karno) saat masih berusia 16 tahun atau. Saat itu, Sukarno belum genap berusia 20 tahun. Pernikahan mereka hanya seumur jagung begitu Sukarno mengenal Inggit Garnasih, ibu kosnya saat kuliah di (sekarang) ITB Bandung.

ABG lain yang dinikahi Bung Karno yakni Naoko Nemoto, kelak dia mengubah namanya menjadi Ratna Sari Dewi. Dia berkenalan dengan Presiden Sukarno saat bertemu di Hotel Imperial Tokyo Jepang sekitar tahun 1958, saat itu dia berstatus pelajar sekaligus entertainer berusia 19 tahun.

Selanjutnya, Presiden Sukarno menikahi pelajar kelas II SMA 7 Jakarta pada 6 Agustus 1964. Yurike Sanger, seorang gadis bongsor anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika yang sering mengisi acara kenegaraan. Meski masih begitu besar cintanya, pada 1967 Bung Karno menyuruh Yurike menggugat cerai dirinya mengingat keadaan dirinya yang cukup payah setelah dijatuhkan Letjen Soeharto, presiden kedua RI. ABG belian inilah yang akan kita bahas lebih jauh dalam artikel ini.

Wanita muda terakhir yang dinikahi Bung Karno adalah Heldy Djafar. Dia adalah gadis keturunan Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Keduanya menikah pada 1966 saat Bung Karno berusia 65 tahun dan Heldy masih 18 tahun. Situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu membuat pernikahan terakhir Sukarno tidak berlangsung lama. Setahun setelah bercerai, pada 19 Juni 1968 Heldy 21 tahun dinikahi Gusti Suriansyah Noor.

Dari kesembilan istri Bung Karno, yang menurut saya paling istimewa adalah Ibu Fatmawati. Dari dirinyalah lahir putra putri Sukarno yang ikut mewarnai sejarah perjalanan bangsa Indonesia, puncaknya tentu ketika Megawati Sukarnoputri menjadi presiden wanita pertama RI. Hampir lupa, saat dinikahi Sukarno, Ibu Fatmawati juga masih tergolong muda meski sudah bukan ABG lagi, 20 tahun.

Sepanjang hidupnya, Bung Karno penuh dengan kontroversi. Ia, seperti juga tokoh-tokoh lain sezamannya, keluar-masuk bui demi mempertahankan cita-cita Indonesia merdeka. Pada masanya, ia berani menantang negara adikuat Amerika-Inggris demi keyakinannya pada kemerdekaan bangsa-bangsa, lepas dari pengaruh bentuk penjajahan baru yang disebutnya neokolonialisme. Tapi ia juga sosok kontroversial dalam soal percintaan. Tercatat, ada delapan wanita yang dinikahinya secara sah sepanjang hidupnya.

Berikut kisah cinta Bung Karno dengan salah satu dari mereka yang pernah mengundang heboh juga. Yurike Sanger menuturkan kisah itu dalam memoarnya yang ditulis wartawan senior Kadjat Adra'i berikut ini. Kisah serupa pernah diangkat Kadjat dalam tulisan bersambung di beberapa majalah pada 1980-an. -------------

Menjadi istri Bung Karno merupakan suratan nasib dan kehendak Tuhan. Begitulah Yurike mengawali kisahnya. Ia mengaku, hal itu sama sekali bukan kemauannya sejak awal, juga bukan jenis impian murid SMA yang pada waktu itu masih senang bermain karet gelang. Lagi pula, sejak awal mengenal Bung Karno, Yurike yang bukan siapa-siapa itu merasa sangat tidak pantas menerjemahkan isyarat yang ditampakkan Bung Karno sejak awal sebagai rasa cinta seorang lelaki kepada seorang perempuan. Perjalanan nasib pula yang membuat Yurike harus melupakan impiannya menjadi pramugari.

Berawal dari kedatangan seorang bintang film bernama Dahlia ke sekolahnya pada awal 1963. Rupanya, sang bintang film itu sudah lama mengamati dan mengincar Yurike untuk dijadikan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kelompok remaja berjumlah 50 pasang yang tampil mengenakan pakaian adat Indonesia pada acara-acara kepresidenan.

Babak baru dalam kehidupannya makin jelas terasa setelah benar-benar masuk dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika itu. Setelah mendapat bimbingan dan pengarahan secukupnya, ia pun resmi menjadi anggota. Pertama kali terjun dalam kelompok itu pada sebuah acara kepresidenan yang digelar di Istora (Istana Olahraga) Bung Karno. "Aku yang merupakan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika termuda tampil dengan kebaya Jawa," tulis dia mengenang peristiwa itu.

Kejutan berikutnya berlangsung ketika pertama kali tampil itu. Yurike mengaku sangat canggung karena ini merupakan pengalaman baru. Keringat dingin terasa mengalir di tengkuknya pada saat Bung Karno justru berhenti tepat di hadapannya ketika melewati Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Tanpa diduga, sang presiden malah menyapa dan menyempatkan diri berdialog singkat dengannya.

"Bermimpikah aku? Bung Karno memperhatikanku lebih dari sekilas. Barangkali karena tahu aku pendatang baru dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika, (Bung Karno) lalu bertanya, 'Siapa namamu?'." Yurike menjawab semua pertanyaan singkat presiden dengan perasaan campur aduk: bingung, malu, dan bangga. Apalagi, Bung Karno sempat terkecoh oleh posturnya yang bongsor, sehingga menyangka Yurike yang masih duduk di bangku SMP itu seorang mahasiswi.

Dalam perkenalan singkat itu juga, sebelum berlalu, Bung Karno mengatakan kepadanya sebaiknya tidak memakai nama dengan akhiran "ke" atau "ce". "Pakai Yuri saja. Nama dengan embel-embel 'ke' atau 'ce' itu kebarat-baratan, tidak sesuai dengan kepribadian nasional kita." Yurike pun hanya mengangguk mengiyakan.

Yurike tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya sejak tatapan pertama dengan Bung Karno itu. "Matanya yang jernih dan terang itu sepertinya hinggap ke pusat mataku dan sampai kapan pun tak bisa kulukiskan dengan jelas. Bicaranya mantap, wajahnya tampan, dan makin tampak gagah dengan jas cokelat tua yang dipenuhi atribut resmi di kedua pundak dan dada kirinya. Secara kebetulan pula, warna cokelat tua memang warna favoritku," tulis dia.

Seiring dengan keterlibatannya yang makin intens dalam kegiatan Barisan Bhinneka Tunggal Ika, makin sering pula ia bertemu dengan Bung Karno. Yurike mengungkapkan beragam perhatian khusus yang diberikan Bung Besar itu kepada dirinya. Bermula dari sekadar menyuruh duduk di dekatnya ketika ada acara resmi di istana, juga dengan mengambilkan kue tradisional dari meja.

Untuk itu, Yurike menulis kenangannya. "Perhatian Presiden Soekarno kepadaku memang terasa agak khusus. Di antara puluhan gadis yang tergabung dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika, menurut pengamatanku, jarang sekali yang menerima perlakuan demikian. Aku tidak pernah berpikir bahwa hal itu akan berlanjut menjadi hubungan yang lebih serius."


Diantar Pulang Bung Karno

Suatu ketika di Istana Bogor, setelah acara resmi usai, Yurike bersantai seperti biasa ia lakukan: mengobrol dengan para pengawal. Tiba-tiba Bung Karno berteriak-teriak memanggil namanya. Pada saat itu, Presiden Soekarno sedang menikmati makan malam satu meja dengan tamu-tamunya. Ia diminta duduk di sebuah kursi yang tampak sengaja dikosongkan persis di sebelah RI-1 itu.

Pada saat yang lain, ia didatangi kepala pool kendaraan istana yang menyampaikan perintah Bung Karno kepadanya. Yurike disuruh memakai salah satu mobil istana untuk antar-jemput setiap kali mengikuti agenda Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Yurike tampaknya ingat betul momen itu. "Tawaran menggunakan mobil istana tersebut disampaikan beberapa hari menjelang peristiwa fenomenal dalam dunia olahraga: Games of the New Emerging Forces (Ganefo) I yang upacara pembukaannya dilakukan pada 1 November 1963 di Stadion Utama Gelora Bung Karno," tulis dia.

Malah peristiwa berikutnya pada masa itu makin di luar dugaan Yurike. Keistimewaan yang didapatkannya terus diikuti dengan keistimewaan lain yang lebih besar. Pada saat pembukaan Ganefo itu, petugas protokol meminta Yurike menjadi penjemput presiden ketika turun dari mobil kepresidenan. Ini jelas menyimpang dari kebiasaan acara protokoler yang umum disaksikannya pada masa itu.

Di lain pihak, peristiwa itu memberi bekas sangat dalam pada dirinya. "Dan, mata kami bertemu. Kurasa, hati kami juga bertemu. Kutangkap kemilau yang seolah menyimpan magnet tersebut. Sementara, tanpa sadar, aku melempar senyum lewat mataku. Biarpun hal itu cuma hadir selintasan, peristiwa yang amat menggetarkan itu lama sekali berlabuh teduh di lembah kenangan."

Isyarat perhatian khusus dan mendalam Bung Karno kian kentara pada masa-masa selanjutnya. Sampai suatu ketika, di tengah acara ramah-tamah presiden dengan pengurus Front Nasional di Istana Merdeka, ajudan Bung Karno meminta dia tidak pulang dulu usai acara. "Soalnya, Bapak yang mau mengantarkan pulang," katanya.

Percaya atau tidak percaya, ternyata begitulah adanya. Yurike duduk bersebelahan dengan Bung Karno di jok belakang sedan Lincoln itu. Perasaan kikuk menyelimuti dirinya selama perjalanan pulang. "Jok besar itu lebar sekali. Kurasa, untuk empat orang pun masih lega. Terbelenggu oleh sikap segan yang demikian besar, juga rasa malu yang sungguh tak teratasi, dudukku seolah menyatu dengan pintu."

Penampilan Bung Karno pada saat mengantarkannya pulang malam hari sekitar pukul 11 itu pun tidak biasa. Bercelana biru tua, kemeja lengan pendek biru muda, bersandal kulit hitam, dan tanpa peci. "Kepala yang biasa berpeci itu agak mengubah sedikit raut wajahnya. Dahinya tampak lebar sekali dan seolah menyambung dengan bagian tengah kepalanya yang botak."

Tanpa sungkan-sungkan pula, Yurike menuturkan bahwa penampilan yang lain dari biasanya itu sempat membuat ayah-ibunya terkecoh. Mereka menyangka, yang datang mengantar hanyalah kepala rumah tangga istana. Malah ayahnya sempat bersikap sinis dan agak kurang sopan ketika menyambut sang pengantar. Setelah tahu yang datang Bung Karno, suasana pun berubah sama sekali.


Bung Karno Menyatakan Cinta

Pada hari-hari berikutnya, seperti bisa ditebak, hubungannya dengan Bung Karno makin dekat. Sang presiden, dalam sebuah perjalanan diam-diam keliling kota pada malam hari, meminta Yurike memanggilnya "Mas", bukan "Pak". Kembali beragam perasaan berkecamuk dalam dirinya. Apalagi, dia sendiri punya pacar: Wisnu namanya.

"Sudah terbalikkah bumi ini? Sudah sedemikian kacaukah pendengaranku? Sudah tak berlakukah norma atau etika kepantasan yang menempatkan sikap hormat sebagai keharusan? Mustahil presiden yang usianya di atas ayahku minta dipanggil 'Mas' oleh seorang gadis SMA. Bagaiamanapun beraninya aku, lidahku pasti mendadak beku sebelum sepotong kata itu keluar dari tenggorokan."

Perjalanan diam-diam keliling kota yang diistilahkan Bung Karno sebagai perjalanan incognito itu semakin sering dilakukan. Hingga suatu malam, sebuah kejutan lain yang lebih besar dialami Yurike ketika diajak ke tepi pantai. Dimulai dari pertanyaan Bung Karno soal suami idaman Yurike, obrolan mereka makin menjurus ke soal pribadi. Akhirnya Bung Karno berujar dengan wajah serius: "Apa Adik tidak tahu Mas mencintai Adik?"

"Sepertinya langit runtuh. Kepala semakin berpendar-pendar bagai kejatuhan benda yang berat sekali. Mengingat sikap-sikapnya, pernyataan demikian memang bisa muncul sewaktu-waktu. Tetapi, tak urung, rasa kaget menerkamku," tulis Yurike mengungkapkan perasaannya ketika itu.

Lalu ia melanjutkan, "Tak pernah aku segemetar seperti saat itu. Raut wajah Ibu, Ayah, saudara, guru-guru di sekolah, kerabat, famili, orang-orang yang ada di sekitar Bung Karno, terakhir kekecewaan Wisnu, bergantian menghiasi pelupuk mata. Semula samar-samar, lalu menjadi jelas. Sejujurnya kuakui, rasa banggaku membukit. Pada detik-detik tersebut, aku merasa bukan anak gadis remaja, tapi sepenuhnya menjadi seorang perempuan yang menerima pernyataan cinta seorang lelaki."

Dan saat itu pun tiba, ketika Bung Karno menyatakan niatnya memperistri Yurike. "Kurenungi laut angan-angan sepuasnya. Pikiran terbang bebas sebebas-bebasnya, jauh meninggalkan apa yang selama ini tampak menakutkan. Gerak kehidupan baru menuju dunia kenyataan rasanya semakin dekat manakala Bung Karno, berselang tidak lama, menyatakan niatnya memperistriku. Bung Karno ingin tahu jawabanku saat itu juga. Tetapi, bagaimana mungkin? Masalah perkawinan tidak bisa kuputuskan sendiri. Aku minta waktu dengan suara tersendat untuk membicarakannya dengan orangtuaku."

Peristiwa Menjelang Pernikahan

Pernyataan Bung Karno soal keinginannya memperistri Yurike berulang di istana. Kejadiannya berlangsung beberapa hari setelah upacara pemancangan tiang pertama pembangunan Wisma Nusantara, Rabu 1 April 1964. Setelah acara yang diikutinya selesai, seorang ajudan memintanya menunggu di teras belakang istana karena "Bapak" ingin memberi kenang-kenangan.

Ternyata Presiden Soekarno menghadiahi Yurike sebuah kalung dari koleksinya yang berjajar di sebuah ruangan di istana. Malah lelaki itu sendiri yang memilihkannya untuk sang pujaan hati. Ini boleh saja dibaca sebagai lamaran tidak resmi sang presiden.

Lamaran resminya disampaikan Bung Karno kepada orangtua Yurike, beberapa waktu kemudian. Bung Karno rupanya mengatur hal itu sejak awal, karena beliaulah yang minta makan malam bersama dengan keluarga Yurike. "Selesai makan, tanpa disangka-sangka Bung Karno menyampaikan niatnya untuk memperistriku. Persisnya: Bung Karno melamar! Kubaca keterkejutan yang terpeta di wajah orangtuaku. Kurasakan luluh segenap sendi tulangku."

Orangtua Yurike jelas sangat terkejut. Ayahnya, tidak bisa lain, menyampaikan rasa terima kasih karena anaknya mendapat tempat istimewa di hati Bung Karno. Dia pun minta waktu untuk memberi jawaban. "Mohon kami diberi waktu untuk berunding, terutama dengan Yurike sendiri. Sebagai orangtuanya, kami tidak bisa membuat keputusan sepihak karena hal demikian akan kurang baik bagi kehidupannya nanti," demikian sang ayah menanggapi lamaran itu.

Yurike sendiri pada saat itu pun seperti didera kebimbangan berkepanjangan. "Aku hanyalah gadis yang baru dijemput ambang remaja. Di sekolah, aku tidak lebih hanya seorang murid yang masih tidak ingin terlambat datang untuk mengikuti jam pelajaran pertama, masih senang jajan es mambo pada jam istirahat. Lalu tiba-tiba saja seorang lelaki melamarku, dan dia justru seorang presiden yang selalu memiliki daya tarik luar biasa."

Ujungnya, lamaran Bung Karno itu diterima orangtua Yurike. Ini membawa suasana lain. Sejak Bung Karno tahu lamarannya diterima, napas kegembiraan sering terlontar dari kerjap matanya. "Alhamdulillah," serunya pertama kali. "Berkuranglah bebanku selama menunggu jawaban itu. Semoga Tuhan selalu memberkahi langkah kita dan memberi kebahagiaan terhadap kita," ucap Bung Karno.

Seiring dengan itu, perlakuan Bung Karno terhadap Yurike otomatis makin istimewa pula. Bung Karno, misalnya, tidak lagi membahasakan dirinya dengan sebutan "saya", tetapi "aku". Beliau juga tidak pernah luput meminta Yurike memanggil dirinya dengan sebutan "Mas" setiap kali perempuan itu keceplosan menyapa "Pak" atau "Bapak".

Dalam kaitan ini, Yurike juga tak menyembunyikan sedikit pun rasa kagumnya kepada Bung Karno. Ia menilai Bung Besar itu benar-benar seorang kekasih yang arif. Dia tahu persis kapan harus langsung ke titik urusan dan kapan diperlukan diplomasi agar tidak terkesan mendikte atau memaksakan diri.

Selain itu, "Bung Karno pandai menempatkan diriku pada tempat yang semestinya. Bung Karno benar-benar berusaha dengan penuh kesabaran menjadikan aku calon istrinya. Lambat laun, hal itu membawa perubahan amat berarti bagiku. Perasaan kami jadi semakin tidak berjarak. Aku bisa cepat menyesuaikan diri sehingga segala kekakuan yang merintangi sikapku cair dengan sendirinya."

Tapi, di balik hubungan yang makin dekat itu, Yurike harus menelan pil pahit. Suatu ketika, Bung Karno meminta dia berhenti bersekolah. Dan itu sungguh mengejutkan. Tapi, "Memang ini salahku sendiri. Aku mulai berani mengadu kepadanya seputar bisik-bisik yang berkembang di sekolah yang berkembang menjadi aneka komentar yang disampaikan secara terang-terangan."

Walhasil, keputusan yang diambil adalah keluar dari sekolah. Pada waktu itu, Yurike masih duduk di kelas II SMA. Ayahnya datang ke sekolah dan secara khusus bicara empat mata dengan kepala sekolah. Alasan keluar tentulah karena Yurike akan menikah dengan Bung Karno. Lelaki itu juga mewanti-wanti agar sang kepala sekolah merahasiakan hal itu.

Yurike sendiri mengungkapkan kegundahannya atas keputusan tersebut. "Sejak itu, aku kehilangan napas duniaku yang amat kukenali selama bertahun-tahun, bahkan sejak kelas I sekolah rakyat. Di satu sisi, aku bisa bebas sebebas-bebasnya dalam arti sudah tidak terbebani kewajiban, tapi kenyataannya malah terbalik: aku justru terpasung di tengah kebebasan atau terbelenggu di tengah pesona kenikmatan yang diberikan orang lain."

Yurike didera kesepian. Apalagi setelah frekuensi kegiatannya di Barisan Bhinneka Tunggal Ika makin dikurangi. Ia merasa, Bung Karno secara tidak langsung mengatur hal ini. "Kukatakan secara tidak langsung karena Bung Karno tidak pernah menanyakan mengapa aku tidak hadir di antara keanekaragaman pakaian daerah seperti waktu-waktu sebelumnya."

Hari yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Yurike yang sudah jenuh dengan hubungan lewat perjalanan incognito malam-malam hari ke pantai di kawasan Tanjung Priok itu makin mendapat kepastian. Pada Kamis 6 Agustus 1964, yang disebutnya hari termanis itu, Bung Karno resmi menikahinya secara Islam.

Ia pun mencatat saat-saat paling istimewa sepanjang hidupnya tersebut. "Sikapku serba-gugup. Waktu terasa merangkak lambat sekali. Detik demi detik, menit demi menit. Kucoba sekuat mungkin mempertenang diri, tapi sia-sia. Kucoba alihkan pikiran ke masalah lain, tapi percuma. Masih terbayang jelas kunjungan calon penghulu kami kemarin malam ke rumah. Maksudnya tidak lain, untuk melatihku agar upacara benar-benar dapat berlangsung khidmat dan lancar."

Tepat pukul 10.00, Bung Karno hadir dengan pengawalan yang jauh dari ketat. Tidak terkesan sama sekali bahwa beliau adalah presiden yang bergelar Panglima Tertinggi ABRI sekaligus Pemimpin Besar Revolusi. Pakaiannya sederhana sekali. Kemeja biru muda lengan pendek, celana biru tua, sepatu hitam, dan peci hitam ciri khasnya dirasakan Yurike benar-benar mempercerah penampilan lelaki itu. "Acara yang paling penting dalam sejarah hidupku dimulai," tulis dia.


Duka Istri Presiden

Ternyata menjadi istri orang nomor satu di suatu negeri tidak selamanya enak. Kesepian yang menerpa dirinya bukannya berkurang. Makin lama, makin terasa menyesakkan. "Hari demi hari bergulir sesuai dengan kehendak sang waktu. Kadang kurasakan hari merangkak lambat manakala kami tidak saling bertemu. Kadangkala bagai sekejap manakala napas kerinduan harus runtuh oleh arus perpisahan yang menerjang," tulis dia meluapkan perasaan itu.

Selama beberapa waktu, Yurike masih tinggal bersama orangtuanya sampai Bung Karno memberinya sebuah rumah di kawasan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Rumah itu diakui Bung Karno sebagai rumah sitaan kejaksaan milik seorang manipulator yang jadi buronan. Kesepian ternyata kian meradang berada di rumah besar itu. Apalagi, ia tidak bisa bebas keluar-masuk halaman yang dikelilingi pagar tertutup cukup tinggi.

Untuk mengusir rasa sepi, Yurike mengaku kerap melampiaskannya dengan berbagai cara. Salah satunya, menghabiskan waktu bergurau dengan para pengawal. "Dasar masih remaja, aku mengajak para pengawal bermain perang-perangan. Aku dan salah seorang adikku berada dalam satu kelompok, mereka dalam kelompok pihak lawan. Mereka dengan sabar mengikuti kemauanku." Terkadang, ia juga menghabiskan waktu dengan ikut main gaple bersama para pengawal.

Tapi hal yang paling mengagetkan dirasakannya adalah pada saat-saat Bung Karno terbakar api cemburu. Ini dialami Yurike ketika menjalani perawatan selama tiga pekan di Rumah Sakit Husada karena mengalami hamil di luar kandungan. Ia harus menjalani operasi untuk mengangkat janin itu. Ketika masuk rumah sakit hingga beberapa lama dirawat, kebetulan Bung Karno sedang bermuhibah ke luar negeri.

Ceritanya, selama dirawat, ada seorang dokter yang memberi perhatian khusus dan istimewa kepada Yurike. Dokter muda itu kerap menjenguknya sembari membawa buah atau yang lain. Terakhir, dokter muda bernama Arifin itu membawakan televisi dan majalah asing agar Yurike dapat mengusir rasa jemunya. Majalah asing itu juga cukup kontroversial: melaporkan pertemuan mesra Bung Karno dengan bintang seksi asal Italia, Gina Lolobrigida.

Begitu Bung Karno tahu, ia tampak sangat murka. Lucunya lagi, ulah si dokter itu dihubung-hubungkan dengan antek neokolonialisme (nekolim). Dengan suara lantang menggeledek, dia memerintahkan pengawalnya membuang semua itu. Bahkan, sebagai buntut kecemburuannya, Bung Karno konon menyuruh tim khusus memanggil dokter itu ke istana dan memeriksanya.

"Kesimpulan yang kudengar, sejauh tentang statusku sebagai istri Bung Karno, dia sama sekali tidak mengetahuinya. Dia juga tidak terbukti ditunggangi nekolim --sebagaimana kecurigaan Bung Karno. Alhasil, tidak ada alasan untuk menahannya. Kendati demikian, tugasnya secara mendadak dipindahkan ke rumah sakit lain, hari itu juga."


Saat-saat Terakhir

Langit tidak selamanya cerah. Ada saat-saat gumpalan awan hitam bergulung-gulung, bahkan tanpa celah sinar barang sejengkal. Keadaan bersih juga tak selamanya tergambar di langit karena tiba-tiba bisa keruh, menakutkan, kadangkala diwarnai suara petir yang menggelegar seolah sanggup merobek bumi. Demikian pula cerminan kehidupan Bung Karno.

Suatu hari, Bung Karno datang tanpa memberi kabar lebih dulu. Pada saat itu, Yurike mestinya merasa senang dan menerima sang suami dengan hati berbunga-bunga. Tapi tidak pada hari itu. Kehadiran tersebut merupakan sebuah kabar buruk. Dia datang naik jip yang dikawal beberapa anggota polisi militer. Wajahnya datar, jauh dari ungkapan kegembiraan.

Itulah yang terjadi beberapa waktu setelah Soeharto dilantik menjadi penjabat presiden, persis pada 12 Maret 1967. Negara membutuhkan istana karena penjabat presiden akan melaksanakan tugas kenegaraannya dari tempat itu. Tidak ada jalan lain, Bung Karno harus angkat kaki dari istana yang telah dihuninya selama bertahun-tahun.

Meredupnya kekuasaan Bung Karno ikut mempengaruhi kehidupan yang dijalani Yurike. Tahun 1968 menjadi tahun yang dianggapnya paling memprihatinkan. Kondisi keuangannya kian tidak menentu. Tambahan lagi, kini tidak ada lagi aliran dana kerumahtanggaan presiden untuk menggaji para pembantu yang jumlah totalnya ada 20-an orang.

Efek yang lebih menyesakkan, sudahlah Bung Karno hidup dalam isolasi di Wisma Yaso, Jakarta Selatan, Yurike pun harus angkat kaki dari rumah di Cipinang Cempedak. Berkali-kali pihak kejaksaan meminta dia mengosongkan bekas rumah pengusaha buronan bernama King Gwan itu, berkali-kali pula ia menolak. Ia baru angkat kaki setelah menerima pesan singkat Bung Karno yang ditulis di atas kertas bungkus rokok. "Dik, lebih baik tinggalkan rumah itu, toh bukan milik kita."

Yang lebih menyesakkan, Bung Karno bahkan menyarankan agar Yurike mengajukan permintaan cerai. Ini mengguratkan suasana haru yang menyelimutinya pada saat itu. "Aku sedih. Betul-betul sedih. Tidak kubayangkan perkataan itu keluar dari bibir Bung Karno," katanya.

Menurut Bung Karno, situasi politik dalam negeri dan kondisi kesehatannya yang memburuk bisa berefek kurang baik bagi kehidupan Yurike selanjutnya secara lahir-batin. Awalnya ia menolak, dengan menegaskan hanya ingin hidup selamanya dengan Bung Karno. "Saya tidak minta apa-apa lagi. Mata Bung Karno berkaca-kaca. Hatiku pun menangis sejadinya," tulis dia.

Akhirnya, Yurike memang bercerai dari Bung Karno secara baik-baik. Peristiwa yang sungguh mengharukan karena mereka masih sama-sama saling mencintai. Sebuah perpisahan yang justru terjadi ketika mereka tengah dekat dan sangat rapat.

Tapi, di atas segala kepedihan itu, yang paling menyesakkan tentulah ketika ia mendengar kabar wafatnya "sang penyambung lidah rakyat Indonesia" itu pada 21 Juni 1970. "Kata orang, aku tidak sekadar meratap, tetapi histeris. Aku tidak peduli. Berkali-kali kupanggil namanya hingga suaraku tak terdengar lagi....". Sekian.

Yakuza, julukan bagi geng kriminal setara mafia di Amerika, selama berabad-abad memegang teguh moral tradisional samurai: kepatuhan dan ke...

Yakuza, julukan bagi geng kriminal setara mafia di Amerika, selama berabad-abad memegang teguh moral tradisional samurai: kepatuhan dan kesetiaan penuh kepada atasan, kehormatan diri, dan rasa malu.



SERBA SEPUH - Berawal dari para pemuda pembela warga desa berjuluk machi yakko, geng-geng kejahatan terorganisasi di Jepang bermunculan sejak Abad Pertengahan. Yakuza, julukan bagi geng kriminal setara mafia di Amerika, selama berabad-abad memegang teguh moral tradisional samurai: kepatuhan dan kesetiaan penuh kepada atasan, kehormatan diri, dan rasa malu.

Kesetiaan itu dulu ditandai dengan sumpah dan memotong satu ruas jari kelingking. Selain bisnisnya yang menggurita, jumlah anggotanya mencapai hitungan ratusan ribu orang yang tersebar ke berbagai belahan dunia. David E. Kaplan, wartawan investigasi majalah Amerika Serikat, U.S. News and World Report, menelusuri jejak geng tersebut bersama rekannya Alec Dubro. Berikut kisahnya yang dinukil dari terjemahan buku mereka, Yakuza: Japan's Criminal Underworld yang akan saya bagikan secara berseri di serba sepuh ini.

Orang Sisilia akan memanggilnya capo di tutti capi --bos dari segala bos. Pada usia 65 tahun, ia bertakhta sebagai yakuza paling berkuasa di Jepang berkat kemampuannya yang luar biasa maupun bantuan kawan-kawannya, seperti Kodama Yoshio. Ia adalah Taoka Kazuo, bos ketiga Yamaguchi-gumi sekaligus pemimpin dari 12.000 yakuza di seluruh Jepang.

Taoka memancarkan kepercayaan diri dan kekuasaannya ketika duduk dalam kelab malam Bel Ami. Kelab tersebut terletak di distrik hiburan Kyoto yang padat. Kyoto merupakan ibu kota Jepang kuno, pusat kebudayaan, sekaligus "benteng pertahanan" kelompok Yamaguchi sejak lama. Saat itu, di panggung, tarian limbo yang sedang dibawakan hampir mencapai klimaks dan sekitar 50 tamu bertepuk tangan.

Waktu itu Selasa menjelang malam, Juli 1978. Seorang pria muda berkemeja putih bangkit dari kursinya dan berjalan pelan-pelan menuju meja dekat panggung, tempat Taoka dan lima pengawal pribadinya duduk. Dari jarak 4,5 meter, ia mengeluarkan pistol kaliber 38 dan menembakkannya ke arah Taoka, menimbulkan lubang di leher sang godfather. Pada saat pria tadi lari menyelamatkan diri, Taoka segera dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan mobil Cadillac antipeluru disertai pengawalan polisi.

Orang yang menyerang Taoka adalah Narumi Kiyoshi. Ia berumur 25 tahun dan merupakan anggota sebuah geng di bawah sindikat Matsuda. Sindikat tersebut merupakan saingan berat Yamaguchi-gumi yang juga aktif beroperasi di Jepang bagian barat. Bos Matsuda-gumi tewas pada 1975 dalam perang memperebutkan wilayah melawan Yamaguchi-gumi. Narumi dan anggota geng Matsuda lainnya menelan abu jenazah oyabun mereka yang mati terbunuh dan bersumpah akan membalas dendam.

Taoka berhasil diselamatkan. Tetapi, tidak demikian dengan nasib Narumi. Ia ditemukan tewas terbunuh secara brutal beberapa minggu kemudian di lereng gunung dekat Kobe, lokasi markas besar Yamaguchi-gumi.

Upaya pembunuhan tadi meletuskan perang antargeng seperti pernah terjadi di Chicago, Amerika Serikat, pada 1930-an. Yakuza bertempur melawan Yakuza pada siang bolong. Mereka saling meyerang di jalan raya dan menyerbu markas lawan. Sedikitnya lima anggota Matsuda-gumi lainnya terbunuh dalam aksi balas dendam berdarah berikutnya.

Selama 35 tahun berkuasa, Taoka Kazuo mengelola sindikatnya dengan menggunakan keahlian khusus orang Jepang, yakni dengan teknik inovatif sembari mempertahankan nilai-nilai tradisional. Walaupun mengendalikan lebih dari 2.500 bisnis, perjudian canggih, dan jasa peminjaman uang dengan bunga tinggi, serta investasi besar dalam bidang olahraga dan hiburan, Yamaguchi-gumi masih mematuhi pola-pola feodal yang sudah ada sejak 300 tahun lalu.

Hierarki Kekuasaan yang Berjenjang

Manajemen sehari-hari sindikat tersebut, sebagaimana kelompok yakuza lainnya, bergantung pada hubungan kuno oyabun-kobun dilengkapi dengan ikatan fiktif yang merentang dari "orangtua" tertinggi hingga "anak" terendah. Jejak-jejak feodal seperti itu tidak mengganggu aktivitas yakuza tatkala mengadaptasi dunia perusahaan modern. Taoka wafat akibat serangan jantung pada 23 Juli 1981. Posisinya digantikan oleh Takenaka Masahisa. Polisi memperkirakan, Yamaguchi-gumi memiliki pendapatan kotor sebesar US$ 460 juta per tahun.

Di atas itu semua, Taoka bertakhta laksana shogun dunia hitam. Biasanya, sang godfather tidak mengikuti kegiatan sehari-hari sindikat. Hal itu diserahkan kepada wakilnya, Yamaken, yang bertindak tak ubahnya presiden direktur "Perusahaan Yamaguchi" [Yamaken, bernama asli Yamamoto Ken'ichi, tangan kanan Taoka yang wafat tak lama setelah Taoka sendiri wafat]. Pada hari kelima setiap bulan, Yamaken mengadakan rapat dengan 12 bos tertinggi Yamaguchi-gumi yang berfungsi seperti dewan direksi. Mereka menentukan kebijakan sindikat dan membagi keuntungan yang diperoleh dari bisnis dunia hitam Jepang.

Secara keseluruhan, ada 103 bos Yamaguchi yang berasal dari sekitar 500 geng terpisah. Para bos berkuasa sesuai dengan prinsip hubungan oyabun-kobun. Di puncak tertinggi piramida kekuasaan adalah empat orang shatei atau "adik-adik" Taoka. Juga berada di puncak piramida adalah delapan direktur lain yang disebut wakagashira hosa (asisten pemimpin muda). Salah satu dari mereka akan ditunjuk sebagai wakagashira (pemimpin muda). Setelah itu, masih terdapat enam sanrokai atau kelompok konsultan senior.

Di bawah hierarki tersebut ada sejumlah posisi yang lebih rendah: seorang kanbu atsukai (eksekutif) dan 83 wakashi (pemuda). Setiap wakashi akan membawahkan sekelompok kobun (anak) atau kumi-in (prajurit). Dalam geng-geng individual ini terdapat struktur hubungan yang mirip. Semuanya didasarkan pada sistem oyabun-kobun. Selain itu, masih banyak pemagang dan kelompok pinggiran lain yang harus diawasi.

Uang dalam jumlah yang sangat besar mengalir melalui hierarki feodal. Setiap geng besar yang berafiliasi maupun Yamaguchi-gumi sendiri mengeluarkan laporan keuangan mereka saban tahun. Setiap bulan, semua geng diminta mengirimkan uang ke markas besar Yamaguchi-guni, yang jumlahnya sering mencapai ribuan dolar. Masih ada bentuk-bentuk iuran lain, seperti hadiah Tahun Baru, uang untuk setiap anggota yakuza yang baru dibebaskan dari penjara, dan uang untuk membiayai kunjungan inspeksi para petinggi Yamaguchi-gumi. Juga ada uang pemakaman. Ambil contoh upeti buat biaya pemakaman Taoka yang menghasilkan uang hingga hampir US$ 500.000.

Menurut perkiraan polisi, Taoka menerima upeti tahunan dari berbagai geng yang mencapai lebih dari US$ 2,1 juta. Angka tersebut bertambah pada dekade berikutnya. Pada awal 1990-an, markas besar Yamaguchi-gumi menerima upeti dan uang iuran sebebsar US$ 13 juta dari seluruh geng yang berafiliasi dengannya. Menurut berbagai sumber, sebanyak 110 bos tertinggi dari geng-geng tersebut membayar iuran keanggotaan setiap bulan sebesar US$ 6.000-8.000.

KontribusiTerbesar Taoka Kazuo

Bagi orang-orang Jepang yang hidup di jalanan, Yamaguchi-gumi memang sepertinya ada di mana-mana. Dalam bisnis tradisional yakuza, Yamaguchi-gumi menguasai Jepang bagian barat. Berbagai geng yang berafiliasi dengannya mengendalikan buruh harian di pelabuhan dan perusahaan konstruksi; memonopoli ratusan pengelola kios kaki lima; memeras uang dari bar lokal dan perusahaan nasional; serta mengelola berbagai bentuk perjudian, mulai tebak angka di pojok jalan hingga permainan kartu tingkat tinggi dengan taruhan mencapai jutaan dolar setiap malam.

Mereka mengontrol partai-partai politik dan bekerja sebagai asisten kampanye bagi para kandidat golongan kanan. Mereka juga mengelola kelab malam dan kabaret, lengkap dengan penghibur, pelacur, dan hampir semua yang diinginkan publik tapi tidak seharusnya mereka miliki.

Kontribusi terbesar Taoka Kazuo adalah memaksa perekonomian Jepang yang sedang berkembang pesat agar mau membuka diri terhadap dunia hitam yang menjadi modern dalam waktu cepat. Pada 1953, Yamaguchi-gumi mengelola 12 perusahaan yang utamanya bergerak dalam bidang tenaga kerja pelabuhan. Pada awal 1960-an, Taoka menjadi Wakil Ketua National Longshoremen's Association. Sepuluh tahun berselang, sindikat Yamaguchi-gumi telah mengembangkan diri ke bidang tinju profesional, sumo, dan gulat gaya barat.

Bersama dengan sindikat terkemuka lainnya, Yamaguchi-gumi mengendalikan sekitar 100 perusahaan produksi dalam bisnis hiburan. Selain itu, puluhan agensi pencari bakat dan penyalur tenaga kerja berada di bawah pengaruh yakuza. Banyak artis yang tidak bisa tampil di panggung kalau tidak disponsori yakuza. Rumah-rumah produksi yang sangat haus akan film-film gengster juga berada di bawah pengaruh yakuza.

Yamaguchi-gumi juga bergerak ke bisnis lain di luar hiburann. Walaupun ada larangan resmi dari sindikat-sindikat besar agar tidak menjual narkotika, para anggota Yamaguchi-gumi menjual narkoba sebagai cara termudah untuk melunasi iuran bulanan. Meledaknya perdagangan metamfetamin, jenis narkoba paling populer di Jepang, memberikan sumber pemasukan yang menguntungkan dan akan terus berkembang. Pada 1970-an pula, polisi memperkirakan, hampir setengah pemasukan yakuza dihasilkan dari penjualan metamfetamin.

[Yamaguchi-gumi memang bukan satu-satunya sindikat yakuza yang beroperasi di Jepang. Kelompok ini memang yang terbesar, dengan jumlah anggotanya pada 2001 diperkirakan lebih dari 17.000 orang. Selain kelompok ini, masih ada sekurang-kurangnya 24 sindikat lain yang memiliki anggota jauh lebih sedikit. Sebut saja sindikat berjuluk Sumiyoshi-kai yang bermarkas di Tokyo, dengan jumlah anggota sekitar 6.200 orang. Lalu, ada lagi keluarga mafia Inagawa-kai yang juga bermarkas di Tokyo yang diperkuat sekitar 5.100 personel. Lihat Tabel: 10 Sindikat Terbesar Yakuza, 2001.]

Penjahat Terhormat Abad Pertengahan

Orang bisa menyebut Fujita Goro sebagai penulis tema-tema yakuza. Ia mantan gengster. Ia juga veteran Tosei-kai, geng yang mayoritas beranggotakan orang Korea. Geng tersebut terkenal kejam dalam mengawasi kelab-kelab malam di Ginza, sebuah distrik terkenal di Tokyo. Tetapi, Fujita Goro tidak lagi berpatroli di jalan pada malam hari sebagai "polisi Ginza" sebagaimana Tosei-kai dulu dikenal. Kini, ia tak ubahnya selebriti di kalangan yakuza: novelis, sejarawan, sekaligus pendongeng dunia hitam Jepang. [Dari tangannya lahir tak kurang dari 30 novel tentang yakuza.]

Di rumahnya yang nyaman di pinggiran Tokyo, Fujita mengadakan seminar langka khusus tentang sejarah yakuza bagi para tamu. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan foto-foto lama yang memperlihatkan para bos yakuza terdahulu. Foto-foto tersebut diselipkan di antara halaman buku bersampul tebal berjumlah lusinan jilid dan disimpan di rak yang kokoh. Perpustakaan ruang kerjanya dipenuhi koleksi literatur Jepang yang unik seperti buku tentang pedang, senjata api, ilmu beladiri, sejarah umum, sejarah regional, perang, dan kelompok sayap kanan.

Bagi Fujita dan rekan-rekannya, sejarah kejahatan terorganisasi di Jepang adalah sejarah mulia, sarat cerita yakuza ala Robin Hood yang membantu orang kecil. Pahlawan dalam cerita-cerita semacam itu adalah korban masyarakat yang melakukan perbuatan baik, para pecundang yang akhirnya menang, ataupun orang yang menjalani hidup sebagai buronan secara bermartabat. Cerita-cerita tersebut menjadi pokok citra diri yakuza sekaligus persepsi publik tentang mereka.

Baik para pakar yakuza maupun sejarawan Jepang mendebat akurasi gambaran yakuza yang disodorkan Fujita. Namun, persepsi bahwa kejahatan terorganisasi di Jepang memiliki masa lalu yang mulia tetap bertahan dalam diri orang Jepang --termasuk polisi. Supaya bisa memahami citra romantis yakuza, kita harus mundur ke empat abad silam, tepatnya ke Jepang pada Abad Pertengahan, yang merupakan sumber dari legenda-legenda yakuza modern.

Walaupun para abdi shogun di masa itu (hatamoto yakko) kelihatannya menjadi nenek moyang sejati dunia hitam Jepang, yakuza modern tidak mengidentifikasi diri dengan mereka. Yakuza modern justru mengidentifikasi diri dengan musuh abdi shogun, yaitu machi yakko atau pelayan kota. Machi yakko adalah sekelompok pemuda kota yang bergabung untuk menghalau serangan hatamota yakko yang semakin lama semakin meresahkan penduduk.

Awalnya GengPenjudi dan Pedagang

Kisah machi yakko yang paling terkenal adalah Chobe Banzuiin. Ia berasal dari keluarga ronin (samurai tak bertuan) di Jepang Selatan. Chobe berkelana ke Tokyo sekitar tahun 1640 dan bergabung dengan saudara laki-lakinya yang menjadi kepala pendeta di suatu kuil Buddha. Ia menjadi makelar buruh yang bertugas merekrut para pekerja guna membangun jalan-jalan di sekeliling Tokyo dan memperbaiki tembok-tembok batu di sekitar istana shogun.


Chobe juga membuka rumah judi, suatu usaha yang kelak menjadi dasar cara kerja yakuza. Sistem taruhan tidak hanya digunakan untuk menarik perhatian buruh supaya mau berjudi, melainkan juga memungkinkan Chobe mendapatkan kembali gaji yang telah ia bayarkan kepada mereka. Menurut cerita, Chobe menjadi pemimpin machi yakko di Tokyo dan ia mati dibunuh musuh bebuyutannya, Mizuno Jurozaemon, pemimpin hatamoto yakko Tokyo. Bersambung…..












KISAH INI ADALAH KISAH NYATA PUTRI SANG RAJA GULA YANG IA TULIS DALAM BUKUNYA” TAK ADA PESTA YANG TAK BERAKHIR” . CUKUP MENARIK UNTUK DISI...

KISAH INI ADALAH KISAH NYATA PUTRI SANG RAJA GULA YANG IA TULIS DALAM BUKUNYA” TAK ADA PESTA YANG TAK BERAKHIR” . CUKUP MENARIK UNTUK DISIMAK DAN SEMOGA MEMBERIKAN ANDA ILHAM DALAM KEHIDUPAN..


SERBA SEPUH - Oei Tiong Ham, yang dijuluki Raja Gula dari Semarang pernah jadi orang terkaya di Asia Tenggara. Ia juga berdagang candu. Berlainan dengan Tjong A Fie, ia tidak dikenal sebagai dermawan. Sekitar tiga dasawarsa yang lalu, putrinya Oei Hui Lan, bersama Isabella Taves, menulis memoar yang diterbitkan di Amerika Serikat. Dari buku berjudul No Feast Last Forever itu kita bisa tahu perihal kehidupan mereka, yang bisa membeli apa saja dengan uang mereka yang berlimpah. Namun apakah mereka berbahagia ?

Saya lahir di Semarang, Desember 1889 sebagai Oei Hui Lan, putri Oei Tiong Ham yang pernah dikenal sebagai Raja Gula dan oran terkaya di Asia Tenggara. Ibu saya istri pertamanya. Ibu hanya mempunyai dua orang anak, kedua duanya perempuan. Kakak saya Tjong lan, sepuluh tahun lebih tua dari saya. Ayah masih mempunyai 42 anak dari 18 gundik. Bagi orang Cina, anak gundik pun dianggap sebagai anak sah.

Saya duga, anak ayah lebih banyak daripada itu, tetapi cuma anak laki laki yang kelingkingnya bengkok yang diakuinya sebagai putranya. Kelingking bengkok diwarisi ayah dari ayahnya. Tjong Lan berkelingking bengkong. Kelingking saya lurus. Namun ayah tidak meragukan saya sebagai anaknya, sebab mana mungkin ibu saya serong dengan pria lain.

Wajah Kakek dianggap membawa Rezeki

Kakek saya Oei Tjie sien berasal dari Amoy, di daratan Cina. Pada masa mudanya ia senang bertualang. Ia terpelajar dan konon tampan seperti Raja Umberto dari Italia, tetapi seingat saya ia pendek dan gemuk.

Karena ikut pemberontakan Taiping, ia menjadi buronan pemerintah Mancu. Terpaksa ia kabur ke sebuah jung yang akan berangkat. Setelah berlayar berbulan-bulan, tibalah ia di Semarang, Jawa. Ia turun tanpa membawa uang sepeserpun dan pakaiannya hanya yang melekat di badan. Di tempat asing yang bahasanya sama sekali tidak dikenalnya itu, ia hanya bisa menawarkan tenaga mudanya.

Mula-mula ia bekerja di pelabuhan, menghela jung-jung yang kandas di lumpur. Ia menyewa penginapan murah tempat para pendatang Cina tidur menggeletak di lantai papan. Pada suatu malam, pemilik gubuk bambu itu melihat pemuda yang sedang tidur kelelahan itu. Wajah pemuda itu dianggapnya membawa rezeki. Pemilik gubuk kebetulan mempunyai banyak anak perempuan. Pemuda itu dibangunkannya untuk dilamar menjadi menantunya. Oei Tjie sien mau saja. Calon istrinya baru berumur 15 tahun, tubuhnya kuat dan sifatnya penurut.

Mereka menikah tanpa pesta apa pun. Perempuan muda itu bekerja keras membantu suaminya. Ia melahirkan tiga anak putra (yang seorang meninggal saat masih bayi) dan empat putri. Sementara itu Oei Tjie Sien keluar masuk kampung memikul barang kelontong. Kadangkadang dari kampung ia membawa beras untuk dijual di kota.

Lama kelamaan , ia menjadi makmur berkat beras. Dikirimkannya uang ke Cina untuk membeli pengampunan, sehingga ia bisa berkunjung ke cina, sekalian memperkenalkan putra sulungnya, Oei Tiong Ham, kepada orang tuanya. Petama kali diajak ke Cina itu, umur ayah baru tujuh tahun. Ia lahir 19 November 1866.

Potong Kuncir Lalu ke Eropa

Kakek berakar di Jawa. Anak-anaknya, bisnisnya dan bahkan makamnya pun ada di pulau itu. Namun ia selalu menganggap dirinya orang Cina dan disebut singkeh, tamu baru. Ia hidup seperti di Amoy, makan makanan Hokkian saja, berbahasa Hokkian saja (ia paham bahasa Melayu tetapi cuma bisa mengucapkan beberapa kata) dan selalu memakai pakaian cina. Karyawannya semua orang Cina, yang berhitung dengan sempoa.

Nenek saya tidak pernah keluar rumah, kecuali kalau ada upacara pembersihan makam keluarga. Kegiatannya cuma main mahyong dan kadang kadang mengisap pipa air. Ia tidak pernah mengunyah sirih, berlainan dengan nenek saya dari pihak ibu.

Namun kakek saya Oei Tjie Sein dan tanda tangannya pun Oei Tjie Sein. Namun ia ingin disebut Kiangwan. Perusahaannya disebut Kian gwan kongsi. Anehnya nenek saya menganggap dirinya Kong si. Jadi kalau menyuruh pelayan umpamanya, ia berkata ,”Kongsi ingin anu.” Kalu berbicara dengan ayah umpamanya, ia berkata Kongsi tidak suka anu.” Ayah juga kemudian memilih anam Tai gawan.

Menjelang lanjut usia, kakek lebih banyak berada di rumah peristirahatannya di luar kota, ketimbang di rumah lamanya di pecinan, walaupun kantornya tetap disana. Soalnya, ia mempunyai dua gundik yang ditempatkan di rumah peristirahatannya itu. Gundik yang seorang adalah seorang perempuan cina yang cantik, yang kulitnya putih mulus seperti porselin dan rambutnya hitam lebat. Kalau sanggulnya dilepas, rambutnya terurai mencapai mata kaki. Kakek lekas bosan kepadanya. Perempuan itu ditempatkannya di sebuah rumah kecil di lahan kakek yang luas itu. Makanan dan pakaiannya dicukupi. Keluarganya boleh menjenguk sekali sekali. Namun apalah artinya kalau kakek tidak pernah mengunjunginya. Saya heran perempuan muda itu bisa bertahan agar tidak menjadi gila.

Di rumah utama, kakek tinggal dengan seorang gundik yang paling dikasihinya. Perempuan itu berkulit hitam dan wajahnya buruk. Ia bertelanjang kaki, mengenakan sarung dan tidak bisa berbahasa Cina. Mereka memiliki dua orang anak yang kulitnya berwarna terang. Saya tidak pernah melihatnya, sebab ketika kakek meninggal ayah memberikan uang dan menyuruhnya pergi bersama anak anaknya, yang tidak diakui ayah sebagai saudaranya. Gundik kakek yang cantik dinikahkan dengan seorang karyawan ayah.

Nenek tidak penah diundang kakek ke rumah peristirahatannya. Walaupun nenek ingin sekali datang. Dekat rumah itu, kakek sudah menyediakan mausoleum untuk makamnya, yang dibangun selama 25 tahun. Nenek meninggal lebih dulu daripada kakek. Ketika kakek meninggal, ia mewariskan 10 juta gulden atau kira kira AS$ 7 juta. Buat ukuran jawa waktu itu, jumlah itu besar sekali.

Saat itu ayah sendiri sudah kaya. Jadi ia meminta kakek menyerahkan rumah besar di Pecinan kepada adik ayah, yang lebih suka menjadi seniman daripada pedagang. Adik-adik ayah yang perempuan mendapat warisan juga. Sejumlah uang disisihkan pula untuk menolong orang orang bermarga Oei yang memerlukan bantuan.

Sesudah kakek meninggal, ayah menjadi kepala keluarga besar kami dan kami pun bebas melakukan hal-hal yang tadinya dilarang kakek. Yang pertama dilakukan ayah adalah meminta izin khusus kepada penguasa Belanda untuk memotong jalinan rambutnya. Kami pun berkunjung ke Eropa untuk perama kalinya. Masa itu perjalanan dengan kapal makan waktu 35 hari. Bagi kakek, dunia ini cuma Cina, tetapi dunia ayah lebih luas.

Janda Yang Baik Hati

Sebelum ayah mulai berusaha mencari nafkah sendiri, ia membantu kakek. Salah satu tugasnya adalah mengumpulkan uang sewa rumah. Suatu hari, setelah berhasil menggantungi 10,000 gulden, ia lewat ke tempat perjudian dan tidak bisa mengekang nafsunya untuk berjudi. Uang bawaannya amblas.

Keluar dari rumah perjudian, baru ia insaf apa akibat kekalahannya di meja jugi itu. Ia tidak punya muka untuk berhadapan dengan ayahnya karena telah berani mempergunakan uang yang bukan miliknya. Kakek bukan hanya tidak suka pada perjudian, tetapi juga keras terhadap anak. Ayah merasa dirinya hina dan bermaksud menceburkan diri dari jembatan. Namun ia ingin mengucapkan selamat berpisah dulu dari kekasihnya, seorang Janda. Janda itu mendesak ayah untuk menerima uangnya sebanyak 10,000 gulden. Akhirnya, ayah mau juga menerimanya. Kebaikan janda itu tidak pernah dilupakan ayah. Ia bukan cuma mengembalikan uang itu, tetapi juga menjamin hidup janda yang menyelamatkan nyawanya itu.

Kakek selalu hidup hemat, ayah sebaliknya. Kakek sering memarahi ayah karena kesenangannya bermewah mewah itu. Suatu hari, karena kesel dimarahi, ayah berkata kepada nenek,“Suatu hari kelak, saya akan lima puluh kali lebih kaya daripada ayah.“Hal itu memang terlaksana.

Mulanya begini: Salah sebuah rumah milik kakek ditinggali seorang Jerman yang sudah lanjut usia. Mantan konsul itu ingin sekali membeli rumah dengan tanah luas yang mengelilinginya itu, tetapi kakek tidak mau menjualnya. Menurut orang Cina, menjual salah satu miliknya berarti kehilangan gengsi. Jadi mantan konsul itu mendekati ayah yang diketahuinya akan mewarisi rumah dan tanah itu.

Saya akan memberi Anda sejumlah uang yang bisa Anda tanamkan sekehendak hati,“usul orang Jerman itu.“Kalau uang itu amblas, saya tidak akan mengeluh. Kalau berkembang sampai sepuluh kali lipat atau lebih, berikanlah rumah dan tanah itu untuk saya pergunakan seumur hidup.

Pada dasarnya ayah seorang penjudi. Ia selalu yakin nasib baik berada ditangannya. Karena itu ia juga lebih suka mempunyai karyawan yang kepandaiannya sedang sedang saja tetapi rezekinya besar daripada memperkerjakan orang yang pandai yang tidak mempunyai hoki. Namun selain mengandalkan hoki, tentu saja ia juga pandai melihat situasi dan memanfaatkannya.

Tawaran dari mantan konsul itu sama saja dengan tantangan untuk berjudi. Jadi ia bertanya berapa jumlah uang yang akan diberikan oleh bekas konsul. Jawabannya mencengangkan dia: AS$ 300,000. Ayah segera setuju, tetapi tidak berburu nafsu menanamkan uangnya. Ia berpikir ayahnya menjadi kaya berkat beras. Jawa memang cocok ditanami padi, sementara itu tenaga kerja dan lahan murah. Tebu juga terbukti cocok ditanam di tanah Jawa. Jadi, ayah membeli lahan luas untuk ditanami tebu. Masa itu Revolusi Industri belum sampai ke Jawa, tetapi ayah sudah mendengarnya,. Ia mendatangkan ahli ahli dari Jerman untuk memberi nasihat perihal mesin mesin yang diperlukan untuk bercocok tanam dan mengolah tebu menjadi gula. Ia mendatangkan mesin mesin dan lewat mantan konsul ia juga mengirimkan pemuda pemuda ke Eropa untuk belajar menjalankan mesin mesin itu dan membetulkannya.

Suksesnya berkesinambungan sebab ia tidak pernah puas. Ia peka terhadap setiap pembaharuan dan gagasan, sehingga tidak henti hentinya menyekolahkan karyawan ke luar negeri supaya bisa mempelajari hal hal yang baru. Mesin mesinnya terus diperbaharui dan pabriknya mendapat aliran lsitrik lebih dulu daripada kediamannya.

Ayah berkata kepada saya,”Jangan mau jadi orang biasa biasa saja. Kita mesti menjadi orang nomor satu.” Kemudian ayah melebarkan sayapnya ke luar negeri dan ke bidang bidang lainnya seperti kopra. Sekali ia menunjukkan kepada saya perkebunan kopranya di luar kota Singapura. Saya berseru kagum ketika melihat tanaman indah itu. Ayah berkata,”Orang lain melihat pohon, aku melihat uang. Pohon kelapa tidak meminta banyak perawatan, tetapi mendatangkan banyak uang.”

Menurut saya, ayah bukan cuma berhasil berkat hoki, tetapi terutama oleh kepercayaan dirinya yang timbul karena ia menguasai bidang yang ia geluti. Akibatnya ia bisa cepat memutuskan segala sesuatu . Ia juga memiliki kepekaan untuk memilih waktu yang tepat.

Membuka Perwakilan di Wallstreet

Pada kunjungan kami yang pertama di Eropa, ayah membuka kantor perjualan di London dan Amsterdam. Untuk mewakilinya di Amsterdam, ayah memperkerjakan seorang Belanda bernama Peters, yang selalu saya panggil Pietro. Ayah mempunyai kapal-kapal sendiri untuk mengangkut gula, kopra, dan tepung kanji. Ayah yang tidak bisa berbahasa belanda, inggris, maupun Perancis itu kemudian membuka perwakilan di Wallstreet, New York.

Asal Muasal ia mengusahakan tapioka itu begini: suatu ketika seorang pemilik pabrik tapioka di Semarang ingin menjual pabriknya yang merugi terus. Ayah menukarkannya dengan sebuah rumah kecil. Pabrik itu diperbaikinya dan dilengkapinya dengan mesin mesin. Tidak lama kemudian ia sudah menjual 1,5 juta ton tapioka ke Asia Timur laut.

Ketika kakek meninggal, ayah menerima warisan rumah mantan konsul jerman itu. Sebetulnya ayah bisa membayar kembali uang pinjamannya beberapa kali lipat, namun ia menepati janjinya.

Bandul intan 80 karat

Ketika ayah saya menjadi kayaraya dan mendapat gelar kehormatan Majoor der Chinezen (1901) , saya sering ikut dengannya melakukan perjalanan perjalanan bisnis. Ayah berpesan kepada para sekretarisnya.,”Belikan dia semua yang diinginkannya”. Saya pun terbiasa untuk diistimewakan, untuk menyimpang dari peraturan yang berlaku dan untuk mengharapkan semua orang tahu bahwa saya anak ayah yang berkuasa.

Tidak ada seorang anak Belanda pun yang memiliki rumah boneka seindah kepunyaan saya. Tingginya sedagu saya, dibeli Pietro di Eropa. Saya bisa merangkak masuk ke dalamnya. Perlengkapannya komplet dan penuh detail. Di kamar mandinya ada handuk yang serasi. Ranjangnya memakai per dan kasur. Dalam lemari pakaiannya bergantungan pakaian boneka boneka saya. Di dapurnya ada panci, alat penggoreng, garpu dan pisau.

Di belakang rumah kami ada kebun binatang, berisi kera, rusa, beruang, kasuari, dll. Kalau ayah kembali dari bepergian, ia selalu membawa hadiah untuk saya spasang kuda poni, sepasang anjing chihuahua, boneka atau apasaja.


Umur saya belum tiga tahun ketika ibu mengalungkan bandulan intan 80 karat ke leher saya. Besar intan itu sekepalan tangan saya dan tentu saja menganggu gerak gerik dan bahkan menyakitkan saya. Namun ibu tidak perduli. Suatu hari ketika pengasuh memandikan saya, ibu melihat dada saya luka akibat intan itu. Barulah ibu melepaskannya. Sampai buku ini ditulis. Intan itu masih saya miliki, tersimpan di sebuah bank di London. Bersambung....